POLITIK SARA : ANCAMAN DAN TANTANGAN PEMILU 2024

HEADLINE1841 Dilihat
Oleh : Al-Walid Muhammad, Ketua Wilayah LBH Ansor Provinsi Maluku
Beberapa bulan lagi rakyat Indonesia akan menentukan siapa wakil mereka di parlemen baik DPR, DPRD dan DPD termasuk juga Pemilihan Kepala Daerah serta Presiden dan  Wakil Presiden. Agenda 5 (lima) tahunan tersebut adalah bentuk implementasi prinsip perwakilan dalam sistem Demokrasi Indonesia. Sistem tersebut memberikan jaminan warga Negara memiliki wakil yang duduk di parlemen yang akan mengagregasikan seluruh aspirasi warga Negara di setiap tingkatan Pemerintahan termasuk juga menentukan kepala daerah serta Presiden dan wakil Presiden yang dapat memperjuangkan segala aspirasi warga Negara.
Tujuan pemilu bukan hanyalah merupakan suatu proses pendistribusian jabatan kekuasaan baik eksekutif maupun legislatif, namun jauh dari itu pada hakikaktnya tujuan Pemilu adalah suatu proses keterlibatan rakyat dalam menentukan pemimpin yang dapat mencapai tujuan dan cita-cita Negara.
Ancaman
Salah satu fenomena politik dalam pemilu-pemilu sebelumnya baik pemilu 2014 dan pemilu 2019 adalah meningkatnya intensitas penggunaan politik sara sebagai suatu metode kampanye. penggunaan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) semakin massif digunakan dalam proses pemilu. fenomena pemilu 2014 dan 2019 termasuk pilkada di beberapa daerah menjadi potret betapa masifnya penggunaan politik sara dalam proses pemilu.
Indonesia sebagai suatu Negara yang heterogenitas sudah pasti sangat memiliki berbagai keberagaman mulai dari suku, agama ras dan kebudayaan, sisi keberagaman inilah yang membuat Indonesia menjadi suatu Negara yang besar di dunia. Salah satu ancaman yang serius bagi eksistensi keberagaman di Indonesia adalah penggunaan politik sara dalam pemilu.
Politik sara tidak bisa bisa hanya dianggap sebagai “racun demokrasi” namun jauh dari itu politik sara adalah ancaman yang sangat serius terhadap Indonesia sebagai suatu Negara. politik sara memberikan efek turunan kepada masyarakat, salah satu efek turunan dari penggunaan politik sara ialah terjadinya segregasi sosial dan keterpecahan antar warga Negara. hal tersebut jika tidak dikelola secara baik maka akan menjadi bom waktu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tantangan
Sebagai ancaman yang serius maka sudah barang tentu menjadi tantangan bagi suluruh komponen baik aktor politik, peserta pemilu,penyelenggara pemilu, Pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat untuk mengambil bagian dalam meminimalisir penggunaan politik sara pada pemilu 2024. Aktor politik dan peserta pemilu memainkan peran yang sangat signifikan dalam merubah dan melawan politik sara dalam proses pemilu. pendidikan politik yang baik kepada masyarakat harus menjadi basis materil dari  proses pemilu yang harus dilakukan oleh aktor politik dan para peserta pemilu baik partai politik maupun perorangan. Selain pendidikan politik, komitmen yang kuat bagi aktor politik dan peserta pemilu dalam rangka melawan budaya politik sara harus menjadi pegangan dalam proses politik.
Selain dua komponen tersebut, penyelenggara pemilu dan tokoh adat serta tokoh agama harus juga dapat melakukan pecegahan bahkan penindakan (khusus bagi penyelenggara) terhadap orang-orang yang menggunakan politik sara sebagai salah satu metode dalam pemilu. tokoh adat dan tokoh agama harus memainkan peran yang maksimal terhadap isu politik sara ini, suku dan agama selalu menjadi bahan dalam perbincangan politik hari-hari ini, dan hal tersebut dapat berpotensi menjadi chaos sosial.
Indonesia dalam beberapa waktu kedepan akan sampai pada pesta demokrasi yaitu pemilu 2024 oleh sebab itu Konsolidasi sosial dari segala komponen masyarakat menjadi salah satu solusi memerangi politik sara dalam pemilu, politik sara haruslah dijadikan musuh bersama dari seganap anak bangsa, sebagaimana yang telah disampaikan diatas ancaman nyata dari politik sara bukan hanya sekedar merusak kualitas demokrasi namun juga merupa ancaman keutuhan Negera Kesatuan Republik Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *